Alasan Orang Indonesia Doyan Nonton Mistis, Horor & Supranatural

Siap Bangun Negara , Oktanti Putri Hapsari

11 days ago



Indonesiabaik.idFilm-film maupun tayangan siaran televisi di Indonesia banyak memproduksi konten mistik, horor, dan supranatural (MHS). Apa sebabnya? Kenapa orang Indonesia suka nonton sajian konten MHS? Pertama, industri film dan penyiaran masih banyak memproduksi film dan tayangan siaran konten MHS karena memang jenis ini laku dijual.

Buktinya sudah banyak. Seperti, film berjudul Pengabdi Setan nangkring sebagai film layar lebar terlaris di Indonesia 2017 (4,2 penonton). Sedangkan 4 film bergenre MHS lainnya masuk 7 besar film layar lebar terlaris di Indonesia 2017. Pun pada 2018, di mana film berjudul Suzzanna Bernapas Dalam Kubur berada di peringkat 2 film layar lebar terlaris di Indonesia 2018 (3,3 juta penonton). Langkah suksenya diikuti oleh 3 film MHS lainnya yang berada di peringkat 10 besar film layar lebar terlaris di Indonesia pada 2018.

Sementara di industri penyiaran, rating tayangan siaran konten MHS di televisi Indonesia sering berada di atas rata-rata, seperti: Karma, Dunia Lain, Kismis (Kisah-kisah Misteri), Pemburu Hantu, Percaya Nggak Percaya, Misteri Tukul Jalan-Jalan, Kisah Nyata Misteri dan lain sebagainya.

Maka, pertanyaan yang wajib ditanyakan sesungguhnya adalah, kenapa orang Indonesia suka program mistik, klenik, supranatural dan sejenis itu? Cerita klenik telah akrab dengan kita selama ribuan tahun. Masyarakat purba kita menganut animisme dan dinamisme. Selama ratusan tahun pula kita telah mengenal berbagai jenis makhluk halus, dari kuntilanak, tuyul, kalong wewe hingga genderuwo.

Sesuai dengan karakteristik budaya sebagian masyarakat Indonesia yang juga percaya pada hal-hal gaib, baik dari perwujudan benda-benda keramat maupun tokoh/sosok tertentu, industri film dan penyiaran hanya melestarikan tradisi itu dalam bentuk medium baru: layar gelas. Bagi stasiun TV alasan utamanya kapitalistik: karena masyarakat suka cerita mistik, maka disajikan tayangan begitu. Ujungnya, rating bagus dan pengiklan datang.

Tingginya animo masyarakat untuk menonton tayangan dengan muatan mistik, horor dan supranatural (MHS) tidak terlepas dari kondisi sosiologis yang merupakan campuran dari fase theologis, fase metafisis dan fase modern positivistik. Ketiga fase tersebut hadir secara bersamaan dan bahkan saling mempengaruhi dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Hal tersebut terungkap dalam Focus Group Discussion (FGD) yang diselenggarakan Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Pusat, (7/8/2018).

Menurut August Comte ada tiga tahap perkembangan intelektual manusia, yang masing-masing merupakan perkembangan dari tahap sebelumya, yaitu: Tahap Teologis; tingkat pemikiran manusia bahwa semua benda di dunia mempunyai jiwa dan itu disebabkan oleh suatu kekuatan yang berada di atas manusia; Tahap Metafisis yakni tahap manusia menganggap bahwa di dalam setiap gejala terdapat kekuatan-kekuatan atau inti tertentu yang pada akhirnya akan dapat diungkapkan. Oleh karena adanya kepercayaan bahwa setiap cita-cita terkait pada suatu realitas tertentu dan tidak ada usaha untuk menemukan hukum-hukum alam yang seragam; Tahap Positivistik yaitu tahap di mana manusia mulai berpikir secara ilmiah.



    Tag :
  • infografis
  • yang muda suka data
  • uu penyiaran
  • undang undang nomor 32 tahun 2002
  • komisi penyiaran Indonesia
  • p3sps
  • pedoman perilaku penyiaran dan standar program siaran
  • kpi
  • rating televisi
  • siaran mistis horor dan supranatural

Infografis Terkait