Pembangunan Rendah Karbon, Babak Baru Pembangunan Berkelanjutan Indonesia

Siap Bangun Negara , Oktanti Putri Hapsari

one month ago



Indonesiabaik.id - Dampak dari perubahan iklim tak dapat disepelekan dan pasti berpengaruh pada keberlangsungan hidup manusia, misalnya pola cuaca yang tak menentu akan berdampak pada gagal panen yang akhirnya mengakibatkan krisis pangan. Bukan hanya sekedar masalah perut, jika tak ada penanganan berkelanjutan untuk menghadapi perubahan iklim sudah pasti akan berpengaruh pada pendapatan masyarakat atau lebih jauhnya lagi perekonomian dan keberlanjutan negara.

Salah satu kebijakan Indonesia untuk mengatasi perubahan iklim adalah dengan perencanaan pembangunan rendah karbon. Pembangunan rendah karbon ini tak hanya menjawab permasalahan lingkungan tapi juga dapat mendorong percepatan ekonomi, hal tersebut terbukti dari pertumbuhan ekonomi yang direncanakan Kementerian Keuangan sebesar 5-6% akan turun jadi 4% jika tanpa intervensi dari green policy.

Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) mengeluarkan dokumen laporan kajian Pembangunan Rendah Karbon (PRK) Indonesia yang siap diterapkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020 - 2024. Indonesia memerlukan pertumbuhan ekonomi tinggi, tapi tidak boleh mengorbankan lainnya. Harus dijaga agar pertumbuhan untuk generasi selanjutnya juga tetap dapat terjadi. Kampanye PRK ini harus bisa menjangkau penerima hasil pembangunan rendah karbon, memenuhi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), serta mampu menjawab isu ekonomi, lingkungan, dan sosial pada saat bersamaan.

PRK adalah proses untuk mengidentifikasi kebijakan pembangunan yang mempertahankan pertumbuhan ekonomi, mengurangi kemiskinan, dan membantu pencapaian target pembangunan di berbagai sektor, serta pada saat yang bersamaan membantu Indonesia mencapai tujuan penanganan perubahan iklim, melestarikan dan meningkatkan sumber daya alam.

Menurut Bappenas, PRK dapat menghasilkan Produk Domestik Bruto (PDB) rata-rata sebesar 6 persen per tahun hingga 2045, lebih tinggi daripada tingkat pertumbuhan saat ini. PRK juga dapat menurunkan emisi Gas Rumah Kaca (GRK) sekitar 43 persen pada 2030, melebihi target penurunan emisi Indonesia yang diniatkan (National Intended Contribution/NDC). Terobosan-terobosan ini tertuang dalam laporan yang berjudul Pembangunan Rendah Karbon: Perubahan Paradigma Menuju Ekonomi Hijau di Indonesia, yang dihasilkan Kementerian PPN/Bappenas melalui Inisiatif Pembangunan Rendah Karbon/Low Carbon Development Initiatives (PRK/LCDI) dengan melibatkan para mitra pembangunan, institusi riset baik di tingkat nasional maupun internasional, dan Kementerian/Lembaga terkait. Hasil laporan yang disusun melalui proses teknokratis tersebut akan diintegrasikan ke dalam RPJMN 2020-2024.

Untuk pertama kalinya, Indonesia secara sistematis mengarusutamakan PRK ke dalam perencanaan pembangunan. Kemajuan pertumbuhan kita tidak hanya diukur oleh PDB, tetapi juga kelestarian lingkungan, efisiensi sumber daya, dan keadilan sosial. Transformasi ini menggembirakan sekaligus menantang. Keberhasilan PRK sangat bergantung pada keterlibatan dan partisipasi penuh Pemerintah Indonesia dan pemangku kepentingan lainnya, termasuk sektor swasta baik di dalam maupun luar negeri, serta masyarakat luas.

PRK juga dinilai dapat menciptakan serangkaian manfaat ekonomi, sosial, dan lingkungan. Pada 2045, kemiskinan ekstrem dapat diturunkan dari 9,8 persen dari total populasi pada 2018 menjadi 4,2 persen. Lebih dari 15,3 juta pekerjaan tambahan yang lebih hijau tercipta dengan pendapatan lebih baik. Kualitas udara dan air yang membaik juga dapat mencegah 40 ribu kematian setiap tahunnya. PRK juga mencegah hilangnya 16 juta hektar kawasan hutan dan menutup kesenjangan kesempatan dari sisi gender dan wilayah. Diperkirakan total nilai tambah PDB mencapai USD 5,4 triliun, dan investasi yang dibutuhkan untuk rasio PDB lebih rendah dibandingkan dengan bisnis seperti biasa.



    Tag :
  • infografis
  • yang muda suka data
  • bappenas
  • pembangunan rendah karbon
  • kenaikan suhu bumi
  • bencana ekstrem
  • produk domestik bruto indonesia
  • pdb indonesia
  • rpjmn 2020-2024

Infografis Terkait