Skizofrenia, Jenis dan Penanganannya

Yuli Nurhanisah , Ananda Syaifullah

one month ago



Skizofrenia adalah penyakit mental utama yang paling persisten dan melumpuhkan. Penyakit ini biasa menyerang orang-orang usia antara 16 tahun hingga 30 tahun. Skizofrebia diderita sekitar 1 dari 100 orang di seluruh dunia atau sama dengan satu persen dari populasi manusia di bumi. Penyakit ini dapat menyerang pria maupun wanita.

Skizofrenia adalah gangguan jiwa berat yang ditandai dengan perubahan tingkah laku yang aneh, mengalami halusinasi panca indera (mendengar, melihat, meraba, mengecap, mencium sesuatu yang tidak ada) dan waham (merasa menjadi sesuatu yang tidak nyata seperti diikuti, diawasi, dibicarakan). Skizofrenia diketahui pula bisa menjadi penyebab depresi, suasana hati menjadi tak tenang, dan neurotisisme.

Berikut jenis-jenis penyakit mental skizofrenia beserta gejalanya:

  1. Skizofrenia Paranoid: Melibatkan delusi, keyakinan keliru yang melibatkan salah tafsir atas pengalaman atau persepsi dan halusinasi pendengaran. Delusi sering kali mengikuti satu tema seperti penganiayaan, kecemburuan, agama, dll. Penderitanya juga dapat menunjukkan perilaku seperti gelisah, marah, menyendiri, bagi penderita yang memiliki delusi penganiayaan memungkinkan mereka bertindak kejam atau bunuh diri, tapi memiliki kemampuan besar untuk stabil secara fungsional dari waktu ke waktu.
  2. Skizofrenia Tidak Teratur: Seseorang dengan skizofrenia yang tidak teratur sering memiliki ekspresi datar atau berperilaku tidak pantas dalam situasi sosial. Orang tersebut mungkin menunjukkan perilaku aneh, seperti meringis atau bertindak konyol dan tertawa pada waktu yang tidak pantas.
  3. Skizofrenia Katatonik: Pada skizofrenia jenis ini, penderita biasanya memiliki gejala yang terkait dengan gangguan psikomotorik, seperti imobilitas, mutisme, atau penolakan terus-menerus terhadap perintah dan instruksi tanpa alasan (negativisme). Penderita terkadang bisa tiba-tiba pingsan
  4. Residual & Undifferentiated Schizofrenia mengacu pada penderita yang pernah menunjukkan gejala Skizofernia, tetapi tidak lagi menunjukkan gejala positif. Namun penderita justru menunjukkan beberapa gejala negatif seperti sedikit bicara, ucapan yang agak tidak teratur, atau memiliki keyakinan yang tidak dapat dijelaskan.

Deteksi dini skizofrenia amat diperlukan untuk menemukan pengobatan yang tepat. Deteksi dini ini biasanya bisa dilakukan bila ditemukan sejumlah gejala seperti seseorang tidak bisa menyampaikan ide secara runut, konsentrasi terganggu, berhalusinasi atau memiliki persepsi inderawiah palsu dan pergolakan emosi.

Orang dengan skizofrenia perlu mengonsumsi obat jangka panjang. Tetapi bila gangguan ditemukan pada episode awal, pengobatan bisa saja hanya dua tahun, lalu dievalusi apakah obat benar-benar dihentikan. Obat-obatan di sini dibutuhkan untuk mengatasi kelebihan dopamin itu. Selain obat, penderita juga memerlukan terapi psikososial misalnya pemberian bekal keterampilan agar ia siap kembali ke lingkungan sosialnya.



    Tag :
  • gangguan mental
  • penyakit gangguan mental
  • skizofrenia
  • jenis-jenis skizofrenia
  • kesehatan jiwa di Indonesia
  • obat skizofrenia
  • Riset Kesehatan Dasar
  • Kementerian Kesehatan
  • yang muda suka data
  • Indonesiabaik.id.

Infografis Terkait