indonesiabaik.id — Di tengah ketidakpastian global, APBN Tahun 2026 tetap dirancang untuk menjadi instrumen utama dalam menjaga stabilitas perekonomian sekaligus mendukung pelaksanaan delapan agenda prioritas nasional
Hal tersebut disampaikan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa saat menyampaikan Laporan Pelaksanaan APBN Semester I dan Prognosis Semester II Tahun Anggaran 2026 dalam Rapat Kerja bersama Badan Anggaran DPR RI.
APBN: Instrumen Utama dalam Menjaga Stabilitas Perekonomian Sekaligus Mendukung Pelaksanaan 8 Agenda Prioritas
Dijelaskan rinci oleh Menkeu Purbaya, bahwa APBN Tahun 2026 tetap dirancang untuk menjadi instrumen utama dalam menjaga stabilitas perekonomian sekaligus mendukung pelaksanaan delapan agenda prioritas nasional, yaitu (1) penguatan ketahanan pangan; (2) penguatan ketahanan energi; (3) pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG); (4) peningkatan kualitas sektor pendidikan; (5) penguatan program layanan kesehatan; (6) pembangunan desa serta pemberdayaan koperasi dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM); (7) penguatan sistem pertahanan semesta; dan (8) percepatan investasi serta peningkatan perdagangan global.. APBN juga tetap menjalankan fungsi strategis sebagai instrumen fiskal untuk menjaga stabilitas ekonomi, meningkatkan produktivitas, dan memperkuat fondasi pertumbuhan ekonomi nasional.
Menkeu menyampaikan bahwa di tengah ketidakpastian global yang mulai mereda namun masih diwarnai berbagai risiko, fundamental ekonomi Indonesia tetap menunjukkan ketahanan yang kuat. Pada triwulan I Tahun 2026, perekonomian Indonesia tumbuh sebesar 5,61 persen (year-on-year), menjadi pertumbuhan triwulan I tertinggi sejak tahun 2014. Inflasi pada Juni 2026 juga tetap terkendali pada level 3,34 persen (year-on-year). Di sisi lain, pertumbuhan kredit, likuiditas perekonomian, aliran modal asing yang kembali mencatat net inflow, dan posisi cadangan devisa turut menunjukkan perkembangan yang positif sehingga menopang stabilitas ekonomi nasional. Pemerintah bersama Bank Indonesia dan otoritas sektor keuangan akan terus memperkuat koordinasi kebijakan guna menjaga stabilitas makroekonomi dan memperdalam pasar keuangan domestik.
Kinerja APBN Semester 1 2026
Hingga Semester I Tahun 2026, pendapatan negara mencapai Rp1.459,4 triliun atau 46,3 persen dari target APBN dan tumbuh 21,4 persen (yoy) dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Capaian tersebut ditopang oleh penerimaan perpajakan sebesar Rp1.187,8 triliun dan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) sebesar Rp271,0 triliun yang didukung meningkatnya aktivitas ekonomi, penguatan tata kelola perpajakan dan kepabeanan, serta peningkatan kualitas layanan kementerian/lembaga dan Badan Layanan Umum.
Sementara itu, realisasi belanja negara mencapai Rp1.656,0 triliun atau 43,1 persen dari pagu APBN dan tumbuh 17,8 persen (yoy) dibandingkan Semester I Tahun 2025. Belanja negara dimanfaatkan untuk mendukung berbagai program prioritas nasional, termasuk Program Makan Bergizi Gratis, penyaluran bantuan sosial, pembangunan infrastruktur, subsidi dan kompensasi, serta transfer ke daerah guna memperkuat pelayanan publik dan pembangunan di daerah. Dengan perkembangan tersebut, defisit APBN Semester I Tahun 2026 tercatat sebesar Rp196,5 triliun atau 0,76 persen terhadap PDB dan tetap berada dalam batas aman.