Lihat Semua : infografis

Masyarakat Indonesia Tahan Gempuran Hoaks


Dipublikasikan pada 3 years ago , Redaktur: Andrean W. Finaka, Riset : Siap Bangun Negara / Desain : Oktanti Putri Hapsari /   View : 756


Indonesiabaik.id - Membludaknya berita hoaks lewat media sosial dari para salah satu pendukung kandidat di Indonesia ternyata tidak memengaruhi hasil pemilu. Tingkat kepercayaan masyarakat atas media arus utama masih cukup tinggi. "Daya tahan masyarakat Indonesia terhadap gempuran berita hoaks atau disinformasi jauh lebih baik dari negara-negara lain," ujar Ketua Komisi Hubungan Antar Lembaga Dewan Pers Agus Sudibyo dalam Diskusi Media Forum Merdeka Barat (FMB) 9 bertajuk "Pers di Pusaran Demokrasi", bertempat di Ruang Serba Guna, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo), Jakarta, Rabu (26/06/2019).

Agus Sudibyo menjelaskan ketika tahun 2016, pemilu di Amerika Serikat haru biru oleh isu hoaks dan disinformasi melalui media sosial yang memecah belah antara muslim dan non-muslim, pendukung imigran dan anti-imigran serta kelompok kulit hitam dan supremasi kulit putih justru membuat Donald Trump terpilih. "Situasi yang sama juga terjadi di Pemilu di India, isu Brexit (keluarnya Inggris dari Uni Eropa), pemilu di Austria dan pemilu di Brasil yang menghasilkan Presiden dari kelompok konservatif Jair Bolsonaro," jelasnya.

Publik AS belakangan baru sadar, ungkap Agus Sudibyo, ketika ada temuan yang membuka ada peran lembaga internet di Rusia yang membuat akun-akun media sosial palsu untuk membuat narasi hoaks selama kampanye Pemilu di AS untuk menggerus popularitas Hillary Clinton. Lembaga tersebut lantas dikaitkan dengan Tim Pemenangan Donald Trump.

Meski demikian, menurut Agus Sudibyo, bukan berarti peredaran informasi hoaks ini dibiarkan. Mengatasi hal ini adalah tugas bersama semua pihak mulai dari Kementerian Kominfo, Dewan Pers, dan KPI sama-sama meningkatkan literasi media kepada publik. "Agar publik bisa membaca media yang memuat informasi yang baik dan datanya bisa diverifikasi," jelasnya.

Agus Sudibyo menambahkan dari riset lembaga komunikasi Edelman, kendati sekitar 40 persen lebih masyarakat Indonesia kerap membaca informasi hoaks, sebanyak 70 persen masyarakat masih menjadikan konten berita media arus utama sebagai rujukan. Turut hadir sebagai narasumber dalam FMB 9 kali ini antara lain Ketua Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Yuliandre Darwis dan Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat Atal S Depari.



Infografis Terkait