Lihat Semua : infografis

Cara Publikasi Jurnal Ilmiah di SINTA


Dipublikasikan pada one year ago , Redaktur: Andrean W. Finaka, Riset : Siap Bangun Negara / Desain : M. Ishaq Dwi Putra /   View : 2.651


Indonesiabaik.id   -   Presiden mengatakan salah satu kunci supaya negara dapat melompat menjadi negara yang maju adalah melakukan investasi di bidang riset dan inovasi. Dengan inovasi dan riset, menurut Jokowi, dapat dilahirkan gagasan-gagasan inovatif yang terkoneksi dengan dunia usaha dan dunia industri yang memberikan manfaat bagi masyarakat serta meningkatkan daya saing ekonomi nasional.

Ya, menurut Presiden Jokowi, pemerintah harus memiliki sebuah strategi dan desain besar untuk memilih agenda riset yang perlu didorong dan didukung besar-besaran. Jokowi menyatakan pemerintah harus memilih agenda riset yang diprioritaskan yang akan memberikan dampak signifikan kepada kemajuan Indonesia. Jokowi menyatakan agenda riset perlu dikerjakan dengan sungguh-sungguh, terfokus dengan anggaran yang terkonsolidasi serta dikerjakan sampai betul-betul jadi dan memberikan manfaat nyata.

Perlu diketahui bahwa anggaran riset tahun 2020 mencapai Rp1,37 triliun dan dialokasikan untuk membiayai total riset sebanyak 28.731 judul penelitian di tingkat perguruan tinggi. Berdasarkan bidang fokus, anggaran riset dan pengabdian kepada masyarakat tersebut dialokasikan mayoritas di bidang fokus sosial humaniora, pendidikan, seni dan budaya; kesehatan; dan pangan. Jumlah riset BOPTN yang dibiayai pada tahun anggaran 2020, yakni 3.800 judul riset di perguruan tinggi negeri badan hukum (PTNBH), 3.142 judul penelitian perguruan tinggi negeri non-badan hukum (PTN non-BH) serta 9.106 judul riset di perguruan tinggi swasta (PTS).

Sementara jumlah penelitian non-perguruan tinggi negeri badan hukum (PTNBH) yang didanai berdasarkan bidang fokus sebanyak 12.248 judul riset. Angka tersebut menunjukkan proporsi penelitian di bidang sosial humaniora, pendidikan, seni dan budaya 37 persen; kesehatan 19 persen; pangan 12 persen; energi sebesar 6 persen; kebencanaan 4 persen; kemaritiman 4 persen; material maju 9 persen; pertahanan dan keamanan 1 persen; teknologi informasi dan komunikasi 9 persen; serta transportasi 1 persen.

Untuk pendanaan penelitian non-PTNBH dengan skema penugasan berupa konsorsium riset unggulan perguruan tinggi dan world class research, dialokasikan dana sebesar Rp84.545.033.000 untuk mendanai 439 jumlah penelitian, dengan rincian 56 judul penelitian dalam skema konsorsium riset unggulan perguruan tinggi dengan anggaran Rp19.404.630.000, dan 383 jumlah penelitian dalam skema world class research dengan dana Rp65.140.403.000. Adapun proporsi dana penelitian non-PTNBH berdasarkan program, yakni riset terapan 38 persen, riset dasar 34 persen, dan peningkatan kapasitas 28 persen.

Nah yang jadi pertanyaan sekarang adalah apakah publik dapat melihat hasil penelitian tersebut? Di mana? Bagaimana para peneliti dapat melihat penelitian yang sudah ada untuk dikembangkan lebih lanjut? Hasil riset nantinya bisa dipublikasikan di berbagai jurnal ilmiah nasional hingga internasional, salah satunya di portal SINTA dari Kementerian Riset dan Teknologi.

Aplikasi ini berupa portal yang berisi pengukuran kinerja Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) antara lain kinerja peneliti, kinerja jurnal, kinerja institusi IPTEK, dan author atau penulis jurnal. Selain mengukur kinerja IPTEK, SINTA juga menjadi alat pengindeks internasional sebagai arsip jurnal, buku, artikel, dan karya ilmiah lainnya.

Tak sama dengan portal pengindeks seperti Google Scholar, Portal Garuda, Indonesian Publication Index (IPI), dan Indonesia Science and Technology Index (Inasti), SINTA memiliki fitur yang lebih lengkap seperti Citation (indeks dalam setahun untuk Google Scholar dan Scopus), Networking (mengetahui siapa saja yang pernah bekerja sama), dan Research Output (jurnal, artikel, buku yang telah dipublikasikan), dan Score (melihat indeks di Scopus, Google Scholar, dan Inasti).

SINTA dikembangkan sebagai wadah hasil penelitian untuk dipublikasikan secara online. Para peneliti dan dosen diberi kesempatan sebesar-besarnya untuk berkontribusi melalui aplikasi SINTA. Kedua profesi ini diharapkan mampu menambah jumlah jurnal atau karya ilmiah melalui portal tersebut. Syarat untuk menggunakan SINTA cukup dengan membuat akun berisi data diri dan melampirkan karya yang telah dipublikasikan.



Infografis Terkait