Lihat Semua : infografis

Profil Penerima Gelar Pahlawan Nasional: Macmud Singgirei Rumagesan


Dipublikasikan pada 2 years ago , Redaktur: Andrean W. Finaka, Riset : Yuli Nurhanisah / Desain : Chyntia Devina /   View : 571


Indonesiabaik.id   -   Macmud Singgirei Rumagesan mempunyai kontribusi besar bagi bangsa Indonesia dalam melawan penjajahan Belanda khususnya perjuangannya untuk mengembalikan Papua Barat ke pangkuan Ibu Pertiwi. Awal perjuangannya dimulai ketika diangkat sebagai raja di Kerajaan Sekar. 

Sebagai raja Macmud Singgirei Rumagesan sangat memperhatikan kesejahteraan rakyatnya. Keberpihakannya kepada rakyat ditunjukkan pada saat Maskapai Colijn milik Belanda yang mengelola tambang di wilayah Kokas. Keberpihakan kepada rakyat ini membuatnya dianggap menentang pemerintah Belanda yang berkonsekwensi hukuman penjara selama 15 tahun.

Keluar dari Penjara pada masa Jepang, kembali Macmud Singgirei Rumagesan menghadapi ancaman Jepang yang sering berlaku kejam. Macmud Singgirei Rumagesan menyediakan lahan perkebunan untuk tentara Jepang yang dimaksudkan agar kepentingan rakyat dapat semaksimal mungkin dilindungi.

Setelah Proklamasi 17 Agustus 1945, Macmud Singgirei Rumagesan menunjukkan keberpihakannya kepada Republik Indonesia. Keperpihakannya tersebut ditunjukkan dengan memerintahkan penurunan bendera Belanda dari Kokas yang menyebabkan Macmud Singgirei Rumagesan ditangkap dan dipenjarakan di Sorong oleh Belanda. 

Di Sorong, Macmud Singgirei Rumagesan justru merencanakan perlawanan bersenjata kepada Belanda sehingga kembali ditangkap dan dipenjara pertama di Sorong dan kemudian dipindahkan ke Manokwari. Di Manokwari, Macmud Singgirei Rumagesan dijatuhi hukuman mati tetapi kemudian diubah menjadi hukuman seumur hidup dan dipindah ke Makasar. Macmud Singgirei Rumagesan dapat bebas setelah Konferensi Meja Bundar 1949 yang menyepakati berdirinya Republik Indonesia Serikat (RIS). 

Perjuangan Macmud Singgirei Rumagesan belum berakhir karena Papua Barat belum menjadi bagian dari RI. Macmud Singgirei Rumagesan konsisten memperjuangkan masuknya Papua Barat sebagai bagian dari RI hingga akhir hayatnya pada 5 Juli 1964.



Infografis Terkait