Srikandi Nusantara, Ini Dia Pahlawan Nasional Perempuan Indonesia
Pahlawan Nasional Perempuan Indonesia
indonesiabaik.id - Indonesia telah menganugerahkan gelar pahlawan nasional kepada 206 warga negaranya yang telah berjuang demi bangsa dan negara.
Pahlawan nasional didefinisikan sebagai gelar yang diberikan kepada warga negara Indonesia atau seseorang yang berjuang melawan penjajahan di wilayah yang sekarang menjadi wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang gugur atau meninggal dunia demi membela bangsa dan negara, atau yang semasa hidupnya melakukan tindakan kepahlawanan atau menghasilkan prestasi dan karya yang luar biasa bagi pembangunan dan kemajuan bangsa dan negara Republik Indonesia.
Indonesia memiliki sejarah panjang atas perjuangan yang tidak hanya diisi oleh kaum lelaki, tetapi juga para wanita. Hingga tahun 2023, sebanyak 16 orang adalah pahlawan Perempuan
Pahlawan Nasional Perempuan Indonesia
Pertama adalah Raden Ajeng Kartini dianugerahi gelar pahlawan nasional di mana ia merupakan tokoh hak asasi perempuan Jawa. Kartini ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional Indonesia pada 2 Mei 1964 oleh Presiden Soekarno melalui Keputusan Presiden Nomor 108 Tahun 1964.
Berikutnya Cut Nyak Dhien, pemimpin gerilyawan Aceh yang melakukan penyerangan terhadap pasukan kolonial Belanda. Kemudian Cut Nyak Meutia sesama rekan seperjuangan Cut Nyak Dhien di Aceh. Nah mereka bertiga dianugerahi gelar pahlawan nasional bersamaan pada 1964.
Kemudian ada Raden Dewi Sartika, seorang pengajar yang mendirikan sekolah untuk perempuan yang pertama di Indonesia, diberikan gelar pahlawan nasional pada 1966. Pahlawan nasional perempuan Indonesia berikutnya yang dianugerahi pada 1969 adalah Maria Walanda Maramis (pendukung hak asasi perempuan dan pengajar dari Minahasa) serta Martha Christina Tiahahu, seorang gerilyawan dari Maluku yang wafat saat ditahan Belanda.
Pahlawan nasional perempuan Indonesia selanjutnya adalah Siti Walidah atau biasa dikenal dengan Nyai Ahmad Dahlan) yang merupakan pendiri Aisyiyah, dan diberikan gelar pahlawan nasional pada 1971.
Lalu ada Nyi Ageng Serang, pemimpin gerilyawan Jawa dari Yogyakarta yang memimpin penyerangan terhadap kolonial Belanda atas beberapa pendudukan, mendapat gelar pahlawan nasional pada 1974 bersamaan dengan Hajjah Rangkayo Rasuna Said, seorang pendukung hak asasi perempuan.
Ada pun pahlawan nasional perempuan Indonesia berikutnya adalah dua ibu negara, yaitu Hj. Fatmawati Soekarno (asal Bengkulu, dianugerahi pada 1980) dan Hj. Fatimah Siti Hartinah Soeharto (asal Solo, Jawa Tengah yang mendapat anugerah pada 1996).
Selanjutnya pada 2006, pemerintah menganugerahi Opu Daeng Risadju (asal Palopo, Sulawesi Selatan) seorang politisi perempuan awal yang melakukan perlawanan terhadap Belanda saat Revolusi Nasional.
Kemudian pada 2017, pemerintah memberi anugerah kepada Malahayati, seorang pejuang dan bangsawan asal Aceh saat melawan pasukan Cornelis de Houtman (penjajah Belanda). Dilanjutkan pada 2018, pemerintah menganugerahkan gelar pahlawan nasional kepada Andi Depu Maraddia Balanipa (asal Polewali Mandar, Sulawesi Barat), seorang pejuang dan aktivis yang berhasil mempertahankan pengibaran bendera merah putih di Mandar pada 1944 padahal saat itu dilarang keras oleh penjajah Jepang.
Di tahun 2019, Rohana Kudus ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional oleh pemerintah pada tahun 2019 berdasarkan Surat Keputusan Kementerian Sosial Nomor 555/3/PB/.05.01/11/2019 tanggal 7 November 2019.
Rohana Kudus yang memiliki nama asli Siti Rohana dilahirkan di Koto Gadang, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, pada 20 Desember 1884. Rohana Kudus merupakan jurnalis perempuan pertama di Indonesia asal Sumatera Barat. Ia dikenal gigih memperjuangkan nasib kaum perempuan pada masanya, mendirikan surat kabar Soenting Melajoe untuk mewadahi pemikiran perempuan serta mendirikan sekolah puteri untuk mengajari keterampilan.
Terbaru, Pemerintah menganugerahkan gelar pahlawan nasional kepada enam tokoh pada 2023. Satu di antaranya perempuan yakni Ratu Kalinyamat dari Jawa Tengah. Ratu Kalinyamat adalah pejuang perempuan dari Jepara yang hidup pada masa awal perkembangan Islam di Nusantara. Selama menjadi penguasa Jepara, ia dikenal sebagai seorang patriot, pemberani, dan ahli strategi perang yang berhasil membangun kekuatan maritim yang ditakuti, untuk menjaga Tanah Air dari bangsa penjajah.