Lihat Semua : infografis

Potensi Investasi Bangunan Hijau Ramah Lingkungan


Dipublikasikan pada one year ago , Redaktur: Andrean W. Finaka, Riset : Siap Bangun Negara / Desain : Chyntia Devina /   View : 1.129


Indonesiabaik.id   -   Kementerian PPN/Bappenas memperkenalkan program P4G National Platform untuk mewujudkan pertumbuhan ekonomi hijau Indonesia. Menteri PPN/Kepala Bappenas Suharso Monoarfa mengatakan, program ini dapat memegang peranan penting dalam mendorong dan mempercepat pembangunan berkelanjutan di Indonesia.

“Saat ini dunia menghadapi tantangan yang berat dalam menghadapi dampak perubahan iklim, dan dampak ini mulai dirasakan di berbagai daerah di Indonesia. Dibutuhkan kolaborasi berbagai pemangku kepentingan dan juga kerja sama lintas sektor agar sistem perekonomian kita dapat beradaptasi dengan kondisi ini,” kata Menteri PPN/Kepala Bappenas Suharso Monoarfa saat menghadiri peluncuran Partnering for Green Growth and Global Goals (P4G) 2030 National Platform, di Kantor Kementerian PPN/Bappenas, pada Senin (24/02/2020).

Turut hadir dalam acara ini antara lain, Menteri Lingkungan Hidup Denmark Lea Wermelin, Menteri Lingkungan Hidup Republik Korea Cho Myung-rae, Duta Besar Denmark untuk Indonesia Rasmus A. Kristensen, Duta Besar Republik Korea Selatan untuk Indonesia Kim Chang-beom, serta Deputi Kedutaan Besar Belanda Ardi Stoios-Braken.

Kementerian PPN/Bappenas berharap P4G National Platform bisa mendukung terjalinnya bentuk-bentuk kemitraan baru dan inovatif dalam mewujudkan pertumbuhan ekonomi hijau di Indonesia.

Selain itu juga, diharapkan bisa membantu mempercepat pencapaian target-target pembangunan nasional Indonesia yang sesuai dengan RPJMN 2020-2024.

“P4G National Platform juga bertujuan untuk mendukung Indonesia dalam mengembangkan berbagai skema kemitraan publik-swasta yang inovatif guna mewujudkan tujuan pembangunan berkelanjutan/sustainable development goals (TPB/SDGs) dan aksi perubahan iklim,” kata Menteri Suharso.

Saat ini P4G telah mendukung sejumlah kemitraan di Indonesia, termasuk lima Scale-up Partnerships dan dua Start-up Partnerships. Antara lain, The Energy Efficiency Alliance for Industry, PlusPlus, 3R Initiative, Sustainable Sourcing at Scale, Clean Energy Investment Accelerator, Food Delivery Companies for SDGs 12, Indonesia Food Loss and Waste Partnership.

Sementara itu, perkembangan P4G di berbagai negara menunjukkan nilai tambah dari inisiatif ini, yaitu mengedepankan kerja sama dalam mewujudkan pembangunan berkelanjutan. Kehadiran P4G di Indonesia melalui Kementerian PPN/Bappenas secara langsung menghubungkan Indonesia dengan negara mitra-mitra P4G lainnya.

Bangunan Hijau

Adapun International Finance Corporation (IFC) mengarahkan para investor untuk berinvestasi pada green building (bangunan gedung hijau). Pasalnya ada potensi besar yang menguntungkan dengan menanamkan dana pada green building ini.

Berdasarkan laporan IFC, kawasan Asia Pasifik akan dihuni oleh setengah dari populasi perkotaan di dunia. Diperkirakan akan terbentuk peluang investasi senilai USD17,8 triliun setara Rp250.000 triliun (kurs Rp14.047 per USD) . Tak heran, wilayah ini menjanjikan peluang investasi yang besar.

"Potensi pembiayaan green building di Indonesia sebesar USD200 miliar dalam sepuluh tahun yang akan datang. Ini merupakan peluang besar yang memiliki dampak bagus ke depannya," ujar Chief Industry Specialist IFC Prashant Kapoor, dalam workshop “Greening The Future With Green Building Finance in Indonesia” di Hotel Ritz Carlton Mega Kuningan pada Jumat (6/12/2019).

Dalam laporan IFC yang berjudul "Bangunan Gedung Hijau: Cetak Biru Keuangan dan Kebijakan untuk Pasar Negara Berkembang, Hingga Tahun 2030" menyatakan, green building di negara berkembang akan membuka peluang investasi senilai Rp24,7 triliun. Ini akan memacu pertumbuhan ekonomi dan mempercepat pembangunan berkelanjutan.

Sebanyak 80 juta orang kelas menengah akan memasuki wilayah Asia dalam beberapa tahun yang akan datang. Maka dari itu, permintaan akan sebuah hunian semakin meningkat. Dengan membangun green building sebanyak itu, ini akan membuat pertumbuhan ekonomi negara akan meningkat.

Sebagai informasi, dampak dari kebijakan bangunan gedung hijau di Indonesia sampai bulan Juni 2019 ini telah mencapai potensi penurunan emisi Co2 lebih dari satu juta metrik ton. Sementara itu, penghematan energi hampir mendekati angka 1,5 MwH yang membantu penghuni bangunan dapat menghemat biaya energi lebih dari 120 juta dollar AS.



Infografis Terkait